| 0 komentar ]

Bunda PAUD, Peran Guru PAUD Sebagai Pendidik semakin Strategis. Setelah empat tahun menguatkan infrastruktur, kini pemerintah menggeser strategi pembangunan nasional untuk menguatkan sumber daya manusia (SDM). Untuk itu, peranan guru sebagai pendidik menjadi sangat strategis. Guru sebagai ujung tombak pembangunan SDM juga harus meningkatkan profesionalisme sekaligus menjadi agen-agen transformasi penguatan SDM Indonesia.

Presiden pernah mengingatkan bahwa kualitas SDM di semua jenis profesi serta kualitas SDM di usia dini dan remaja harus dapat ditingkatkan secara signifikan (punya arti). "SDM kita harus mampu menghadapi dan memanfaatkan peluang dalam dunia dan perkembangan teknologi yang begitu cepat berubah saat ini," tuturnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, menegaskan kembali bahwa peran guru sebagai pendidik tak dapat digantikan oleh profesi lain maupun teknologi. Untuk mewujudkan guru sebagai pendidik profesional, pemerintah mengajak guru untuk terus mengembangkan kapasitas dan potensi diri.

Di tengah perkembangan dunia yang sangat cepat, para guru diharapkan dapat mengambil peran yang lebih dari sekadar mengajar, tetapi juga mengelola belajar siswa. Presiden berpesan agar para guru dapat lebih fleksibel, kreatif, menarik, dan dapat menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan dan disukai siswa.

Ayo berbanggalah menjadi seorang guru. Sebab di tangan para guru, pamong, dan tenaga kependidikan, masa depan bangsa menjadi taruhan. Melalui anak-anak peserta didik di sekolah, di sanggar-sanggar belajar, kita akan menentukan masa depan bangsa. Tidak ada sosok sukses yang tidak melewati sentuhan seorang guru. Kita bisa berdiri tegak saat ini juga karena pernah ditempa oleh para guru!

Tanpa figur pendidik, kita bukanlah apa-apa, guru adalah pembentuk insan cendikia. Di tangan merekalah masa depan bangsa ini ditentukan dan akan lahir pahlawan pembangunan yang kelak mengisi ruang-ruang publik di negeri ini.

Hari Guru Nasional menjadi momentum untuk merefleksikan keberadaan para pendidik, termasuk membandingkan guru masa kini dengan pendahulunya. Kondisi guru saat ini sudah berbeda, guru masa kini tidak hanya yang mengajar di kota-kota besar namun hingga di pelosok desa kehidupannya lebih sejahtera.

Kebijakan sertifikasi guru yang diluncurkan pemerintah sejak tahun 2006 lalu berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan. Guru yang dinyatakan lulus sertifikasi maka otomatis akan memperoleh berbagai tunjangan sesuai dengan kondisi dan tantangan di tempat guru mengajar.

Peningkatan kesejahteraan guru diharapkan akan memberikan dampak positif pada peningkatan profesionalisme guru dalam menularkan pengetahuan kepada peserta didik. Guru harus menyesuaikan diri, mengikuti perkembangan zaman dalam memberikan metode pembelajaran kepada siswa siswi.

Kenyataan, peningkatan kesejahteraan guru belum diimbangi dengan peningkatan kinerja guru dalam kontribusi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Banyak guru masih belum beranjak dari metode-metode lama dalam mengajar dan belum melakukan inovasi yang dapat meningkatakan kemampuan siswa. Kondisi tersebut diakui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dalam pidatonya pada Hari Guru Nasional, bahwa hingga kini profesionalisme guru di Indonesia masih belum memenuhi harapan.

“Masih diperlukan upaya-upaya yang lebih keras agar pekerjaan guru di Negara kita betul-betul sebagai pekerjaan professional di masa yang akan datang. Pemerintah selama ini telah mengupayakan banyak hal agar para guru semakin profesional. Namun upaya itu akan sia-sia belaka tanpa keinginan keras dari pihak guru itu sendiri,” ujar Mendikbud.

Di tengah tuntutan untuk lebih profesional, guru di Indonesia masih menghadapi tantangan dari perubahan zaman. Pemahaman sosok guru untuk “digugu dan ditiru”, yakni sebagai sosok yang dihormati dan diteladani oleh siswa, orang tua siswa dan lingkungan sekitar telah ternodai. Dalam beberapa tahun terakhir, peristiwa kriminalisasi terhadap guru yang dilakukan baik oleh siswa maupun orang tua siswa terus meningkat. Harkat guru ikut tercabik.

Guru memang bukan sosok sempurna. Ketika seseorang memutuskan untuk mengambil profesi menjadi guru, maka ia harus siap untuk menjadi bagian dari kehidupan individu-individu yang dididiknya dan siap menerima tantangan dari perubahan zaman. Profesi guru tetaplah menjadi terhormat. Digugu itu berarti murid wajib patuh kepada guru dan menjalankan apa yang disampaikan guru. Ditiru itu berarti siswa harus meniru perilaku guru oleh karenanya guru harus bersikap arif dan bijaksana.***

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakkan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta beragama), bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilakukan oleh anak usia dini.

Pendidikan anak adalah tugas dan tanggungjawab bersama antara orang tua dan sekolah. Orang tua tidak dapat sepenuhnya membebankan proses pendidikan anaknya pada sekolah. Idealnya proses pendidikan yang berlangsung di satuan pendidikan dapat menghasilkan peserta didik yang tidak hanya memiliki kompetensi secara intelektual namun hendaknya juga memiliki akhlak mulia.

Sumber:
- Dirjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat
- kemdikbud.go.id

0 komentar

Posting Komentar