| 0 komentar ]

Setuju atau pun tidak setuju bahwa Pendidikan anak usia dini bagi anak berusia 0-6 tahun harus mulai menjadi perhatian pemerintah daerah termasuk pemerintahan di tingkat Kabupaten dan kota.

Bahkan, daerah juga didorong mewajibkan anak mengikuti pendidikan anak usia dini minimal satu tahun, terutama di usia 6 tahun, agar siap memasuki pendidikan di Sekolah dasar (SD).

Menurut Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ella Yulaelawati, bahwa dari 4,76 juta anak usia dini di tahun 2016, separuh di antaranya sudah duduk di bangku SD. Meski usia wajib belajar SD dalam undang-undang dimulai usia 7 tahun, anak usia 6 tahun yang sudah memenuhi syarat, cukup banyak yang sudah bersekolah di SD.

Usia 6 tahun ini bisa dibilang usia yang tanggung. Artinya, ada yang sudah bisa masuk ke SD, tetapi ada juga yang masih di PAUD. Kami mendorong anak usia 6 tahun ini agar bisa dijamin mendapatkan layanan PAUD yang memenuhi standar pelayanan minimal di daerah. Sayangnya, ketentuan ini belum bisa diwajibkan ke daerah. Demikian menurut Bunda Ella Yulaelawati.

Menurut Bunda Ella Yulaelawati, perkembangan PAUD di Indonesia cukup pesat, yakni mencapai sekitar 190.000 institusi. Bantuan pemerintah pusat untuk guru PAUD ataupun biaya operasional masih minim, atau belum mencakup semua PAUD yang 90% dikelola atas inisiatif masyarakat. Cakupan layanan PAUD, idealnya dimulai usia 0-6 tahun. Saat ini, laynan PAUD formal dan nonformal berkembang untuk usia 3-6 tahun yang jumlahnya 19 juta lebih anak.

Bunda Ella mengatakan, bahwa perkembangan PAUD masih seadanya tanpa standar pelayanan minimal. Padahal, intervensi anak usia dini merupakan investasi yang sangat baik untuk menyiapkan generasi lebih handal. Dengan fokus untuk memastikan anak usia dini terlayani PAUD yang memenuhi standar, yakni diusia 6 tahun, mereka dapat lebih siap untuk belajar di SD. Saatnya semua daerah mendukung komitmen ini.

Kesenjangan layanan PAUD memang masih lebar. Contohnya, Taman Kanak-Kanak GMIT Merpati Timur di Kecamatan Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, kegiatan PAUD masih sederhana. PAUD minim permainan di dalam dan luar ruangan. Padahal, kegiatan PAUD utamanya lewat permainan yang mampu menstimulasi kemampuan kognitif, emosi, dan sosial anak.

Fakta lain, PAUD di lingkungan gereja yang sangat sederhana memberi manfaat bagi cucu Oma Ruth, Epin (5), yang selalu diantarnya. Cucunya percaya diri dan mulai bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini Kabupaten Kupang, Yane Emilia Suni mengatakan, ketrika belum ada PAUD, kesiapan belajar siswa rendah. Bahkan ada anak kelas VI yang belum bisa membaca. Di desa-desa, PAUD masih terbatas, termasuk kemampuan guru dan kesejahteraannya,.

Dari hasil Riset Universitas Cambridge dalam riset “Kualitas PAUD: Kajian Internasional dan Panduan bagi Pembuat Kebijakan”, dikatakan bahwa PAUD berkualitas tinggi mempengaruhi perkembangan akademik anak, emosi, dan kesejahteraan sosial yang lebih kuat daripada fase pendidikan apapun. Prinsip PAUD untuk menstimulasi anak dalam suasana yang menyenangkan dan penuh permainan.

Marilah kita turuti jejak Sulawesi Tenggara yang bergabung dengan 40 Kabupaten lainnya di Indonesia yang berkomitmen untuk menuntaskan ikut PAUD minmal satu tahun pra sekolah dasar. Ini merupakan program pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang diperuntukan bagi daerah-daerah yang siap dan memiliki komitmen tinggi agar setiap anak dapat terlayani PAUD minimal satu tahun sebelum masuk jenjang pendidikan dasar.


Sumber:
- Dirjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat
- kemdikbud.go.id

0 komentar

Posting Komentar