| 0 komentar ]

Belakangan ini kita sering mendengan orang-orang membicarakan tentang Generasi emas. Generasi emas, yang momentumnya diharapkan terjadi saat Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaannya, yakni pada 2045, menjadi peluang untuk menabur benih-benih keuletan, kebajikan dan kematangan watak atau karakter. Secara demografi, berkah yang berasal dari mayoritas jumlah penduduk usia produktif yang terjadi antara 2010 hingga 2035, diharapkan akan melahirkan apa yang dicita-citakan sebagai generasi emas.

Tentunya pada periode tahun 2010 sampai tahun 2035 kita harus melakukan investasi besar-besaran dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai upaya menyiapkan generasi 2045.

Investasi pembangunan bukan yang hasilnya bisa dirasakan sekejap, melainkan lebih pada keuntungan jangka panjang dengan hasil optimal, tetapi berbiaya lebih murah. Salah satu caranya dengan berinvestasi pada anak usia dini, terutama mulai usia 0-6 tahun.

Ketika kesadaran atas pentingnya mengelola bonus demografi itu dipopulerkan beberapa waktu lalu, pihak yang paling giat menggagas sejumlah program untuk mewujudkan generasi emas adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Selain itu, kesadaran itu sesungguhnya telah dimiliki oleh keluarga-keluarga sebagai unit sosial yang paling koheren dalam mengawal perjalanan anak-anak mengaktualisasikan diri mereka.

Para orang tua yang bertanggung jawab atas masa depan anak-anaknya yang akan menjadi bagian integral dari generasi emas perlu disadarkan bahwa yang paling menentukan hidup sukses seseorang bukanlah fasilitas tetapi perjuangan yang tidak kenal menyerah.

Di sisi lain, Pemerintah juga telah menyiapkan grand design (desain besar) untuk mewujudkan cita-cita bangkitnya generasi emas pada 2045. Diantara grand design yang dicanangkan adalah menggencarkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), peningkatan kualitas PAUD dan pendidikan dasar yang berkualitas dan merata.

Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjaga tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan, mulai 0 tahun hingga usia 18 tahun. Jaminan tersebut meliputi kecukupan gizi hingga layanan kesehatan lainnya. Secara khusus, pada rentang usia 0-6 tahun yang disebut sebagai usia emas harus dipersiapkan bersama untuk membentuk generasi emas penerus bangsa.

Hasil riset merekomendasikan bahwa perkembangan kecerdasan terjadi sangat pesat pada awal tahun kehidupan,yakni sekitar 50% dari kecerdasan orang dewasa terjadi ketika anak berumur 4 tahun, dan 80% telah terjadi ketika anak berumur 8 tahun, (Fasli Jalal, 2000). Goleman (1995) juga mengkaji bahwa periode ketiga atau ke empat tahun pertama anak didik merupakan periode yang subur bagi perkembangan kecerdasan emosi.

Di usia emas, peluang pengenalan literasi sejak usia dini merupakan sebagai langkah awal dalam menciptakan anak-anak anak yang berkualitas. Lebih dari itu pula pada dasarnya sejak anak dilahirkan ia sudah membawa kemampuan literasi, sehingga lingkungan mempunyai peran penting untuk mengembangkannya. Pembiasaan literasi harus dimulai sejak pendidikan dini yaitu PAUD, TK, pendidikan dasar dan berlanjut hingga pendidikan menengah dan tinggi.

Pembangunan anak usia dini harus jadi perhatian pemerintah, dewan perwakilan rakyat, dunia usaha, masyarakat, hingga orang tua. Pembangunan anak yang holistik dan terintegrasi membuat investasi pada anak usia dini memberikan manfaat besar di kemudian hari, termasuk mengurangi angka kemiskinan.

Negara yang berinvestasi pada pembangunan anak usia dini akan menuai manfaat yang besar. Anak-anak yang sehat dan bahagia serta berpendidikan baik merupakan generasi penerus bangsa yang siap melanjutkan Pembangunan Nasional du berbagai bidang kehidupan.


Sumber:
- Dirjen PAUD dan Pendidikan Masyarakat
- kemdikbud.go.id

0 komentar

Posting Komentar